Ditambah lagi dengan karakter orang Betawi
yang sangat egaliter dalam menerima setiap kebudayaan yang datang.Perihal ini
saya pernah bertanya kepada budayawan sekaligus penyair Bapak Sapardi Joko Damono
beberapa tahun silam. Menurutnya orang Betawi telah mengalami sebuah fase
perubahan yang pesat akibat proses asimilasi. Namun perubahan tersebut tidak
membuat orang Betawi ataupun etnis Betawi menjadi punah, melainkan
bermetamorfosis menjadi etnis atau orang Betawi baru. Betawi yang terbentuk
akibat proses asimilasi dengan budaya lain di Kota
Jakarta. Dan ini menurut saya merupakan fase
kedua terbentuknya etnis Betawi akibat perpaduan berbagai etnis yang ada. Hanya
saja dalam fase ini perubahan dalam hal budaya dan kesenian tidak terlalu
banyak pengaruh. Hanya dalam hal pembentukan entitas orang Betawi yang banyak
berpengaruh.
Betawi, salah satu etnis di
Indonesia
yang dipercaya sebagai etnis penduduk asli
kota Jakarta.
Agak unik membicarakan etnis Betawi, secara geografis terletak di pulau Jawa,
namun secara sosiokultural lebih dekat pada budaya Melayu Islam. Etnis Betawi
juga agak sulit untuk dilacak asal muasalnya karena minimnya literatur dan
peninggalan bersejarah yang ada. Beda dengan etnis-etnis lain di Indonesia yang
dapat dengan mudah dilacak sejarah perkembangan budaya mereka.Apa yang disebut
dengan etnis atau orang Betawi sebenarnya terhitung pendatang baru di
Jakarta. Kelompok etnis
lain yang sudah hidup lebih dulu di
Jakarta
adalah orang Sunda, Jawa, Arab,
Bali,
Sumbawa,
Ambon dan
Melayu. Antropolog Universitas
Indonesia,
Dr. Yasmine Zaki Shahab MA menaksir etnis Betawi baru terbentuk sekitar tahun
1815-1893.
Perkiraan itu didasarkan atas studi sejarawan
Australia, Lance Casle. Di zaman
kolonial Belanda, pemerintah selalu melakukan sensus. Dalam sensus penduduk
Jakarta tahun 1615 dan
1815, terdapat penduduk dari berbagai golongan etnis, tetapi tidak ada catatan
mengenai golongan etnis Betawi. Antropolog Universitas
Indonesia
lainnya, Prof. Dr. Parsudi Suparlan menyatakan, kesadaran sebagai orang Betawi
pada awal pembentukan etnis ini juga belum mengakar. Dalam pergaulan
sehari-hari mereka lebih sering menyebut diri berdasarkan lokalitas tempat
tinggal mereka, seperti orang Kemayoran, orang Senen atau orang
Rawabelong.Pengakuan terhadap adanya orang Betawi sebagai sebuah kelompok etnis
dan satuan sosial politik dalam lingkup yang lebih luas, yakni Hindia Belanda,
baru muncul pada tahun 1923, saat Muhammad Husni Thamrin mendirikan
“Perkoempoelan Kaoem Betawi”. Saat itulah segenap orang Betawi sadar mereka
merupakan sebuah golongan, yakni golongan orang Betawi. Pada tahun 1930
kategori orang Betawi yang sebelumnya tidak pernah ada, muncul sebagai kategori
etnis dalam data sensus.Namun bukan sejarah namanya kalau tanpa polemik. Ridwan
Saidi, sejarawan, budayawan dan sekaligus politikus Betawi mencoba meluruskan
semua teori tersebut. Ia berpendapat Betawi bukanlah etnis “kemarin sore”.
Orang-orang Betawi telah ada jauh sebelum J.P Coen membakar Jayakarta tahun
1619 dan mendirikan
Batavia
di atasnya. Ridwan menunjuk bukti keberadaan orang Betawi tersebut secara
geografis, arkeologis dan sejarah perkembangan bahasa dan budaya. Lebih lengkap
perihal teori Ridwan Saidi dapat dilihat dalam beberapa bukunya diantaranya
berjudul ; Profil Orang Betawi (1997), Warisan Budaya Betawi (2000), dan Babad
Tanah Betawi (2002).Keberadaan etnis Betawi memasuki fase baru sejak
kemerdekaan 1945 hingga detik ini. Kota Jakarta sejak kemerdekaan dibanjiri
imigran dari berbagai etnis di
Indonesia
dalam jumlah sangat besar. Akibatnya orang-orang Betawi mau tidak mau
berasimilasi dengan para imigran tersebut. Hal ini menyebabkan entitas asli
Betawi semakin pudar.
Setelah beberapa tahun berlalu saya pun mulai bertanya kembali, orang Betawi
seperti apa yang dimaksudkan oleh mantan Dekan Fakultas Sastra UI itu? Apakah
seorang Joko, anak yang mempunyai kedua orang tua beretnis Jawa, tetapi ia
lahir dan besar di
Jakarta
bisa disebut orang Betawi?
Gaya
bicara Joko sudah sangat kental dengan logat Betawi, bahkan ia pun tidak bisa
berbahasa Jawa dan tidak pernah lagi mengenal kampung halamannya di Jawa. Atau
seorang Henrizal, anak yang lahir di
Jakarta
dan kini menetap di
Bandung
dari Bapak beretnis
Padang
dan Ibu dari Batak layak disebut orang Betawi?Ataukah seorang Abas yang lahir
dari kedua orang tua yang beretnis Betawi, tetapi dalam kesehariannya ia jarang
menggunakan bahasa Betawi akibat lingkungan akademik dan tempat kerjanya layak
disebut orang Betawi? Ia juga tidak pernah menampakkan atau bangga disebut
sebagai orang Betawi dalam kehidupannya.
Atau setiap orang yang mengaku beretnis Betawi adalah orang Betawi? Ataukah
pendapat lain yang meyatakan orang Betawi adalah mereka yang telah hidup
minimal 3 generasi di
Jakarta.
Sampai sekarang tidak ada kejelasan dalam hal tersebut.Orang Betawi memang
jarang menganggap penting asal muasal keturunannya yang masih jadi polemik.
Bagi orang Betawi yang lebih penting adalah memikirkan masalah kematian dan
bagaimana mengisi kehidupan sebelum mereka meninggal. Hal ini berdasarkan
keyakinan mereka yang kuat terhadap agama Islam sebagai nafas budaya mereka.
Itulah oang Betawi yang sangat toleran terhadap berbagai etnis lain. Bagi orang
Betawi kualitas manusia itu tidak ditentukan oleh keturunan siapa, melainkan
isi kepala dan perilakunya.Begitulah orang Betawi, walaupun secara geografis,
mayoritas wilayahnya sudah diambil orang lain alias tergusur, namun orang
Betawi masih tetap eksis.
Karena orang Betawi yakin mereka tidak pernah tergusur atau digusur dari
Jakarta, sebagai kampung
halaman mereka. Selama Jakarta masih ada, selama itu pula akan muncul
ornag-orang Betawi baru. Nah pertanyaanya sekarang, merasa orang Betawi-kah
anda?
Post a Comment